5 Mitos Saat Memulai Usaha

Menjadi seorang pewirausaha saat ini sudah menjadi pilihan banyak orang, ketimbang menjadi karyawan. Kewirausahaan menawarkan manfaat yang besar bagi banyak orang, khususnya kaum perempuan, karena anggapan bisa bekerja sendiri di rumah, kebebasan dalam mengatur waktu, atau lebih cepat mendatangkan uang.

Meski kelihatannya mudah, namun berwirausaha tidak semudah yang dibayangkan. Karena dianggap mudah, tak jarang orang jadi terkesan menyepelekan prosesnya, dan akhirnya malah gagal. Bila Anda sudah bertekad untuk berbisnis dan mengendalikan sepenuhnya kegiatan operasional bisnis Anda, pahami dulu beberapa mitos tentang wirausaha agar tak kaget saat menjalaninya.

1. Bekerja dari rumah berarti lebih santai
Jika Anda berpikir bahwa menjadi wirausaha bisa membuat Anda bisa bekerja lebih santai, pikirkan lagi. Justru dalam banyak kasus, para pengusaha harus bekerja lebih lama dari pegawai kantoran. Hanya saja, ketika Anda bekerja untuk diri sendiri, Anda bisa mengontrol jadwal Anda sendiri. Ini berarti Anda lebih fleksibel untuk menjalankan pekerjaan di tengah hari atau justru di tengah malam sesuai dengan waktu produktif Anda.

Namun yang perlu diingat adalah, fleksibilitas juga berarti bahwa Anda harus bersaing dengan batas yang tak jelas antara waktu pribadi dan karier, terutama saat baru mulai berbisnis. Sebab, Anda harus mengurus semua aspek bisnis Anda sendiri. Pembagian waktu yang jelas dan disiplin antara waktu pribadi dan waktu kerja sangat dibutuhkan agar kedua hal ini berjalan seimbang. Yang penting, pastikan Anda melakukan semua hal untuk sesuatu yang Anda cintai.

2. Bisa terbebas dari bos
Jika Anda berpikir bahwa menjadi seorang wirausaha berarti bisa terbebas dari bos, pikirkan sekali lagi. Ketika bekerja sendiri, Anda justru memiliki “bos” yang lebih banyak lagi, yaitu klien atau pelanggan Anda. Ketika menjadi karyawan, Anda mungkin telah bekerja keras untuk menyenangkan bos Anda. Namun ketika menjadi pewirausaha, Anda harus bekerja lebih keras untuk membuat klien Anda senang dengan layanan Anda. Jika tidak mampu memenuhi kebutuhan klien, Anda akan kehilangan pelanggan. Meski begitu, keuntungan dengan bekerja sendiri adalah, Anda bisa bebas memilih orang-orang yang akan bekerja sama dengan Anda. Juga, menciptakan suasana atau kultur perusahaan sesuai keinginan Anda.

3. Bisa bekerja sekaligus mengasuh anak
Seorang ibu bekerja pasti tahu bahwa biaya untuk merawat dan membayar pengasuh anak tergolong cukup mahal. Banyak perempuan yang lantas berpikir untuk menjadi seorang wirausaha dengan harapan bisa sekaligus merawat anak dari rumah. Namun, Anda harus realistis dengan situasi yang Anda hadapi. Coba pikirkan situasinya, misalnya berapa banyak waktu yang bisa Anda dedikasikan untuk anak tanpa ada tekanan dari partner bisnis atau relasi Anda. Benarkah Anda betul-betul leluasa untuk membagi waktu antara mengasuh anak dan menjalankan bisnis?

4. Bisnis skala kecil untuk tahu tentang aspek hukum
Banyak pemilik bisnis kecil (UKM) berpikir bahwa bisnis mereka terlalu kecil untuk dikelola secara profesional, dengan membentuk struktur bisnis atau memenuhi aturan-aturan hukum lainnya. Namun, konsultan wirausaha menyarankan untuk tetap berpikir ke arah ini. Ketika Anda bergabung dalam wadah pengusaha kecil, misalnya, Anda akan membantu melindungi aset pribadi pemilik dari segala kewajiban perusahaan. Jika suatu saat bisnis Anda mengalami masalah atau pailit, aset pribadi Anda juga masih bisa dilindungi. Selain itu, bantuan dari lembaga pengusaha bisa membantu Anda mengatasi kesulitan yang mungkin dialami.

5. Perlu banyak uang untuk memulai usaha
Menjadi wirausaha mungkin bukan masalah besar untuk Anda yang punya banyak modal. Namun, ini tak berarti butuh banyak modal untuk berwirausaha. Investasi minimal juga bisa digunakan untuk memulai usaha dengan tambahan sedikit kreativitas. Sebagai contoh, bisnis di bidang jasa dinilai memerlukan biaya yang lebih rendah dibanding usaha lainnya. Namun, yang paling penting adalah menjadi realistis tentang kondisi keuangan Anda, dan yakin bahwa membangun bisnis yang sukses tak hanya didasarkan pada modal besar.

 

sumber kompas.com

Tagged

Tips Sukses Bisnis Rental Mobil

Berikut ini adalah artikel tips sukses bisnis rental mobil. Artikel berikut ini hanya sekedar sharing saja. Dengan harapan bisa membawa manfaat yang banyak kepada pengunjung blog rembes.com
Tips sukses membuka usaha  jasa rental mobil :

  1. Pilihlah tempat atau lokasi yang strategis
  2. Pahamilah selera konsumen, biasanya penyewa mobil lebih suka dengan mobil yang bermuatan banyak
  3. Pilihlah mobil yang biaya operasionalnya kecil, harga suku cadangnya relative murah dan biaya perawatannya rendah. Ini akan menghemat biaya operasional Anda
  4. Manfaatkan jasa asuransi untuk melindungi mobil Anda dari berbagai resiko
  5. Manajemen administrasi yang jelas dan lengkap, sehingga data diri para konsumen dapat dilihat dan dilacak bila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan
  6. Bekerjasama dengan bengkel atau montir langganan, untuk memperbaiki ataupun perawatan mobil Anda. Agar memperoleh harga yang lebih murah
  7. Mengoptimalkan promosi melalui brosur, iklan baris, via online, dan pemasangan spanduk
  8. Jika memakai jasa sopir, pilihlah sopir yang baik ( tidak ugal – ugalan ) dan memiliki pengetahuan tentang jalan dan mesin. Selain mobil Anda akan lebih terawat, konsumen juga akan nyaman dan senang
  9. Jika bisnis Anda telah berkembang, maka tambahlah stok mobil Anda. Anda bisa mencari tambahan modal untuk menambah mobil atau sekedar mengajak teman Anda yang memiliki mobil untuk bekerjasama
  10. Carilah konsumen dari perusahaan atau instansi, agar bisa dijadikan sebagai pelanggan tetap yang selalu memakai jasa rental mobil Anda.

Demikian artikel tips sukses bisnis rental mobil, Semoga bermanfaat

Tagged

Sukses Ibu Rumah Tangga dalam Berbisnis

Pekerjaan ibu rumah tangga mengurus keluarga semestinya tak membatasi perempuan dalam berbisnis. Kaum ibu yang tergabung dalam komunitas ID Mompreneur membuktikan bagaimana ibu rumah tangga mampu meraih sukses melalui bisnis. Melalui seminar mengangkat topik “Bisnis Hebat Keluarga Dekat”, komunitas ini memperingati Hari Kartini, 21 April 2012, untuk menginspirasi kaum ibu dalam mendirikan bisnis.

Ibu rumah tangga dalam komunitas ini sebagian besar pernah bekerja sebagai karyawan, lalu memutuskan berhenti bekerja setelah menikah dan hamil. Kesibukan mengurus anak merupakan hambatan perempuan untuk berkarir di luar rumah. Solusi agar perempuan tetap produktif adalah dengan berbisnis dari rumah. Simak kiat suksesnya.

Mulai dari hal sederhana

Bisnis bisa dimulai dari kebutuhan sederhana, seperti misalnya Yulia Astuti yang merintis salon moz5 (baca: salon muslimah). “Awalnya saya terinspirasi karena saya sebagai muslimah selalu kesulitan mencari salon yang tertutup sehingga untuk gunting rambut aja susah,apalagi creambath,” kenang Yulia dalam talkshow di CityWalk, Sudirman, Jakarta, Sabtu (21/4/2012).

Berangkat dari kebutuhan tersebut, Yulia merintis salon kecil di sudut jalan Margonda, Depok,  di samping rumahnya, sepuluh tahun lalu. Salon kecil itu, kini telah memiliki 26 cabang dengan tambahan tiga cabang yang sedang dipersiapkan peluncurannya.

Mulai dari kebutuhan penting atau mendesak

Salah satu contohnya adalah Christien Ismuranty yang mendirikan usaha makanan sehat “Kainara”. Kainara tumbuh dari kebutuhan menyediakan makanan sehat dan enak sesuai kebutuhan diet khusus dan rotasi makanan anaknya, Kay Saidpurnama Ismunara. Awalnya Christien memproduksi sendiri makanan untuk diet anaknya.

Ternyata, setelah menjalani diet khusus tersebut, selama dua bulan, Kay bisa tidur lebih tenang dan teratur dan Hiperaktif mulai berkurang. Terapis dan teman sesama orang tua anak penyandang autisme mendorong Christien untuk mengembangkannya menjadi usaha sehingga dapat menjangkau lebih banyak orangtua yang juga membutuhkan.  Lahirlah bisnis makanan sehat “Kianara” yang kini telah memiliki 40 varian produk.

Tawarkan sesuatu yang unik
Pada awalnya, karena melihat banyak orang menyukai burger, Nilamsari mencoba membuka outlet burger, namun tidak berjalan lancar. Enam outlet yang sudah berdiri, harus terkikis oleh persaingan bisnis burger dari kompetitor. Lalu Nilam dan suami terinspirasi dengan Kebab saat berjalan-jalan ke negara Turki. Akhir tahun 2003, Nilam dan suami mencoba membuat Kebab Turki dengan rasa khas lidah Indonesia untuk mempopulerkannya.

“Awalnya susah mengedukasi pembeli. Ada yang menyangka ini burger, hotdog, bahkan ada yang menyangka martabak. Tapi lama kelamaan, dengan sabar menjelaskan, kebab turki ini kini digemari dan bahkan banyak yang meniru,” ungkap Nilam.

Konsep unik Kebab Turki yang ditawarkan Nilam dalam brand Kebab Turki Baba Rafi itu, akhirnya memang berhasil membuat lidah Indonesia ketagihan. Kini, Kebab Turki Baba Rafi telah memiliki 850 outlet berkat sistem franchise. Pada Mei 2012, Nilam akan membuka cabang di Malaysia dan menyusul Filipina pada Juni 2012.

sumber kompas.com

Tagged ,

Berbisnis Dengan Modal Dengkul

Berbisnis Dengan Modal Dengkul

Berbisnis Dengan Modal Dengkul

Mencari pekerjaan sulit di zaman ini. Jumlah angkatan kerja tidak sesuai dengan ketersediaan formasi pekerjaan. Angka pengangguran meningkat setiap tahun. Data tentang pengangguran terbuka dari tahun 1996 ke 2000 meningkat, yaitu sebesar 4,228,115 orang (4,9%) tahun 1996 menjadi 5,965,795 orang (6,1%) pada tahun 2000. (Pengukuran pengangguran terbuka dalam sakernas, laporan # 35 paper statistik # 7, uzair suhaimi, yahya jammal, 2001)

Usaha sektor non formal menjadi pilihan mereka yang tidak mendapatkan pekerjaan. Ironinya, kesempatan mendirikian usaha kecil tidak menarik bagi mereka yang memiliki latar belakang pendidikan relatif tinggi.

Kompetensi Saja Sudah Cukup?

Idealnya lulusan perguruan tinggi memiliki kemampuan melakukan analitis, yaitu merubah persoalan yang rumit menjadi sederhana. Kemampuan analitis dapat digunakan untuk mengungkapkan kemungkinan resiko dan peluang pendirian sebuah usaha.

Sayangnya kebanyakan lulusan perguruan tinggi lebih menonjolkan aspek munculnya dampak negatif daripada peluang bisnis itu sendiri. Sehingga mereka tidak memiliki keberanian untuk memulai usaha.

Bagaimana mungkin cukup bagi penyelenggara program studi hanya dengan mengandalkan mata kuliah kewirausahaan (2 sks) untuk dapat menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi teknologi dan spirit kewirausahaan (technopreneurship). Apalagi sistem perkuliahaan kewirausahaan lebih banyak di ruang kelas.

Modal Usaha sebagai Penghambat?

Selanjutnya aspek permodalan adalah salah satu faktor penghambat lahirnya wirausahawan muda. Modal dianggap segala-galanya. Perhitungan investasi, operasional, dan tingkat pengembalian modal menjadi begitu rumit dan menakutkan. Sehingga mereka lebih memilih sebagai sosok pencari kerja daripada membuka usaha dan lapangan kerja.

Modal usaha penting tetapi bukan dijadikan alasan untuk tidak memulai usaha. Modal merupakan sumberdaya kekayaan perusahaan. Pemodal berarti pemilik modal. Sedangkan Modal tidak selalu dalam wujud uang. Sehingga Pemodal adalah pemilik sumberdaya yang bukan selalu uang.

Keberanian = Faktor Kunci

Jadi bagi seseorang yang tak memiliki uang terbuka peluang untuk menjadi pemilik usaha “bussines owner”. Pernyataan banyak orang bahwa modal non uang adalah modal dengkul. Dengan bermodalkan dengkul kaki sendiri, seseorang dapat menahan beban dan berjalan serta beraktivitas usaha. Artinya tanpa diawali modal uang sebuah usaha dapat berdiri dan berjalan serta tumbuh dan berkembang membawa harapan pemiliknya.

Kalau seseorang tidak memiliki dengkul sendiri, gunakan dengkul orang lain. Orang lain tidak akan pernah marah sepanjang ada konpensasi yang menarik dan fleksibel. Membangun kemitraan permodalan merupakan kombinasi yang rasional dan menjadi kekuatan lebih besar daripada modal dengan dengkul sendiri.

Keberanian mengambil resiko adalah syarat utama untuk menjadi pebisnis. Keberanian memulai usaha dengan modal dengkul menandakan kapasitas, kekuatan dan daya saing pebisnis itu sendiri. Semua orang memiliki potensi menjadi pebisnis modal dengkul. Perbedaan menyolok satu dengan yang lain adalah keberanian bertindak.

Sikap berani bertindak mampu mengeliminir hambatan terbesar merintis bisnis, yaitu permodalan. Hambatan ketidaktersediaan modal hendaknya jangan dijadikan alasan untuk tidak memulai, tetapi sebaiknya memicu lahirnya kreatifitas dan gagasan yang gemilang.

Setiap gagasan atau ide yang lahir dari rahim seorang tak ber-uang memiliki daya tahan untuk bertahan dan berpotensi tumbuh berkembang. Beranikah anda menjadi Pebisnis modal dengkul?

Ayo Indonesia Bangkitlah !

sumber : taya.wordpress.com

Tagged ,

Kisah Sukses Puspo Wardoyo

Bicara waralaba ayam bakar, ingat Wong Solo. Berdebat tentang Wardoyo, pemilik Rumah Makan Ayam Bakar Wong Solo. Malah dalam banyak hal, nama lelaki ini lebih beken ketimbang rumah makannya. Maklum, keberaniannya membuat acara Poligamy Award di suatu hotel beberapa waktu lalu, menimbulkan pro dan kontra. Apakah ia kebablasan dalam hal personal branding? Tunggu dulu. Ternyata, menurut pria kelahiran Solo 46 tahun lalu ini, apa yang ia lakukan memang disengaja. Kok bisa?

“Saya harus menciptakan konflik terus-menerus di benak orang supaya orang membicarakan saya,” ujar Direktur PT Sarana Bakar Diggaya ini blakbalakan. Bahkan ia mengungkapkan, jika perlu, ia membayar orang untuk mendemo dirinya sendiri. Tujuannya, supaya orang selalu membicarakan dirinya tanpa henti dan polemik menjadi panjang. Contohnya, isu poligami.

Bagi Puspo, apakah orang membicarakan hal positif atau negatif, untuk tahap awal bukanlah masalah. Yang penting, setiap saat orang membicarakan dirinya. Hal ini, dikatakannya, penting untuk bisnisnya. “Ketika orang membicarakan Puspo, itu berarti membicarakan Wong Solo, ” ujar suami dari empat wanita ini. Ia yakin, jika orang kenal Puspo, yang bersangkutan akan men- deliver hal itu ke Wong Solo.

Bagaimana Puspo bisa melakukan ini semua? Diceritakan, ketika pada tahun 1993 memulai bisnis ini, ia belum seterkenal sekarang. Ia memulai perjalanan usahanya dengan modal Rp. 700 ribu. Waktu itu orang mengenalnya hanya sebagai pedagang kaki lima di Bandara Polonia, Medan.

Namun suatu hari pada 1996, Koran daerah Medan, Waspada menulis seputar dirinya. Judulnya, “Puspo Wardoyo, Sarjana Membuka Ayam Bakar Wong Solo di Medan.” Sejak itu, bisnis rumah makannya sukses besar. Omsetnya naik 300%-400%. “Dari sini saya sadar dampak pemberitaan,” ujar mantan guru SMA di Bagansiapi-api, Sumatera Utara ini. Dan ia pun mulai mendekati pers.

Setelah cukup dekat dengan kalangan pers. Puspo mulai memahami cara kerja dunia pers. Antara lain, penting isu dalam pemberitaan. Sejak itu, ia mulai menciptakan isu atau konflik yang berkenaan dengan dirinya. “Isu atau konflik itu penting supaya media mau memberitakannya, tanpa kita memintanya,” ia menjelaskan. Isu-isu yang dibuatnya haruslah mengandung unsur tidak bermasalah. Malah kalau bisa, dengan isu tersebut, ia menjadi pahlawan. “karena seorang pionir adalah seorang pembuka, dan ia bisa disebut pahlawan,” katanya. Target besarnya adalah bagaimana mempromosikan bisnis.

Tentang sosok pahlawan ini, Puspo mencontohkannya dalam hal poligami. Ia memfigurkan dirinya sebagai pahlawan poligami. Sekaligus sebagai pengusaha rumah makan yang sukses dan andal. Di sini ia ingin meruntuhkan mitos bahwa poligami itu tabu.

Isu yang diluncurkan, antara lain sewaktu mendapat penghargaan Enterprise-50. Lalu, saat menerima penghargaan sebagai Waralaba Lokal Terbaik dari Presiden RI Megawati. Dan terakhir yang bikir geger Poligamy Award. Tak tanggung-tanggung, dana tak kurang dari Rp. 2 miliar dikucurkannya untuk acara ini.

Tentang isu poligami, Puspo berujar, “Ini positif dan paling efektif. Karena ada kebenaran, tapi tak semua orang berani mengungkapkannya.” Toh, ia melihat, dari sisi agama, apa yang dilakukannya tak melanggar aturan. Ia sadar, banyak orang yang setuju dan banyak juga yang tak setuju. “Ketika orang bicara poligami, tak akan pernah tuntas,” ujarnya. Hal itu, ia menambahkan, akan memunculkan konflik di antara mereka.

Puspo mengakui ia sangat terkesan dengan isu Poligamy Award. Karena, setelah acara tersebut diselenggarakan, banyak sekali tanggapan dari masyarakat. “Ini puncak promosi saya,” ujarnya bangga. Diakuinya, ini isu yang paling berat dan seru yang pernah diluncurkannya. “Karena isu ini melawan arus,” tambahnya. Isu-isu tersebut ternyata tidak dibuatnya sendiri. Ia membentuk sejumlah tim. Tim yang terdiri dari para wartawan ini tersebar di beberapa kota, antara lain Jakarta, Badung, Surabaya, Solo, Malang, Bali dan Medan. Namun, ia tak menyerahkan pembuatan isu begitu saja kepada timnya. “Semua tetap di bawah kepemimpinan saya,” katanya. Dua minggu sekali ia mengadakan rapat untuk menetapkan isu dalam satu bulan.

Hasil evaluasinya saat ini menunjukkan, nama Puspo Wardoyo sudah dikenal banyak orang. Adapun dari sisi bisnis, ia merasa relatif berhasil. Saat ini sejumlah rumah makan di berbagai kota besar dimilikinya. Sejumlah proposal kerjasama juga terus mengalir ke mejanya. Namun, kalau dibandingkan dengan rumah makannya, ia mengakui namanya cenderung lebih popular ketimbang Wong Solo. Itulah sebabnya, agar seimbang, kini ia mengupayakan agar nama rumah makannya kian dikenal. Karena hal itu, beberapa langkah kini digodoknya. Caranya? Membuat sejumlah isu baru! Pertama, isu yang berisikan pesan bahwa dirinya adalah sosok yang baik, sabar, penuh kasih sayang dengan keluarga, dan dermawan. “Saya ingin colling down setelah kasus Poligamy Award, untuk meraih simpati,” ujarnya terus terang. Berikutnya, fokus pada product branding. Sejumlah produk unggulan Wong Solo akan segera diluncurkan.

Menurutnya, selama ini Wong Solo dikenal sebagai rumah makan biasa. Padahal, usahanya ini memiliki sejumlah produk unggulan. Contohnya, beras terbaik dari Delangga. Juga, kangkung unggulan yang hidup di air panas dari Cibaya, yang karena daya tahannya yang kuat dinamakannya Kangkung Perkasa. Selain itu, ia juga memiliki beberapa produk unggulan yang namanya nyerempet-nyerempet poligami, seperti Jus Poligami, Jus Dimadu, atau Tumis Cah Poligami. Terlepas dari kontroversi yang ada, suka tidak suka, Puspo adalah salah satu pebisnis yang piawai mem-brand-kan dirinya.
Sumber : http://ukafahrurosid.blogspot.com/2009/02/kisah-sukses-puspo-wardoyo.html

Tagged ,

Suka duka Ical Bakrie membangun kerajaan bisnisnya

Artikel ini saya dapat dari blog resminya om Bakrie. Silahkan anda simak baik-baik kisah wirausaha yang sukses ini. Pesen saya, jangan lihat posisinya atau keadaannya sekarang, tapi lihat apa yang ia katakan.

Lihat pengalamannya dan ambil sisi positifnya. Semoga kisah nyata pengusaha sukses ini bisa menginspirasi dan menggugah semangat anda…

Selama ini banyak orang bertanya kepada saya bagaimana rahasianya menjadi pengusaha yang sukses. Mereka berharap saya bersedia membagi pengalaman dan kiat-kiat berusaha supaya sukses.

Bagi saya, membagi pengalaman kepada orang lain menyenangkan, apalagi bila pengalaman saya tersebut bermanfaat.

Senin 5 April lalu, saya diundang oleh Universitas Islam As Syafiiyah, Jakarta, untuk membagi pengalaman. Dalam acara bertajuk “Studium Generale Kewirausahaan” itu saya diminta memberikan ceramah mengenai kewirausahaan dan kiat sukses berbisnis.

Kepada para mahasiswa saya katakan untuk sukses berbisnis kita tidak bisa hanya belajar di bangku kuliah saja. Bangku kuliah hanya mengajarkan dasar dan teori. Sisanya kita belajar kepada mereka yang telah berhasil. Orang itu tidak harus S3 untuk menjadi pengusaha. Bisa jadi hanya S1 seperti saya, bahkan ada yang tidak memiliki ijasah.

Apa langkah pertama yang harus dilakukan untuk memulai usaha dan menggapai kesuksesan? Jawabannya adalah mimpi. Kita harus berani bermimpi menjadi orang yang sukses. Sejarah juga membuktikan banyak temuan hebat dan orang sukses dimulai dari sebuah mimpi. Kalau anda bermimpi saja tidak berani, ngapain membuka usaha.

Tentu saja tidak hanya berhenti sekedar mimpi untuk mencapai sukses. Setelah mimpi anda bangun, lalu pikirkanlah mimpi anda. Berfikirlah yang besar. Seperti kata miliarder Amerika Donald Trump; if you think, think big. Pikir yang besar, pikir jadi presiden, jangan pikir yang kecil-kecil.

Setelah itu anda buat rencana, buat rincian, dan bentuk sebuah tabel. Terakhir, yang paling penting, segera jalankan rencana tersebut. Jika anda bertanya perlukah berdoa? saya katakan berdoa itu perlu (baca : sangat penting). Tapi perencanaan juga perlu. Doa saja tanpa perencanaan saya rasa tidak akan berhasil.

Dulu waktu masih kuliah, saya biasa membuat perencanaan dan membagi waktu. Saya bangun sholat Subuh, lalu latihan karate, setelah itu tidur lagi sampai pukul 10. Baru pukul 11 belajar.

Intinya dengan perencanaan, masalah akan terselesaikan dengan baik. Sekarang juga begitu, saya bagi waktu untuk partai dan lainnya. Pukul sekian seminar, pukul sekian jadi pembicara, pukul sekian… Kadang 10 masalah bisa saya selesaikan sehari.

Keluhan paling sering dilontarkan orang yang tidak berani berusaha adalah tidak mempunyai modal atau dana. Banyak juga yang berkata saya bisa sukses karena ayah saya pengusaha. Itu salah besar. Saat memulai usaha saya tidak mempunyai uang.

Saat akan membeli Kaltim Prima Coal (KPC) saya juga tidak memiliki dana. Caranya saya datangi calon kontraktor dan tawarkan kerjasama yang menguntungkan dia, tapi saratnya dia pinjami saya dana. Saya juga mendatangi bank dan berkata demikian. Lalu dari uang yang dipinjamkan itu, saya membeli KPC dan sekarang menjadi perusahaan besar.

Jangan pernah bicara tidak punya dana. Uang datang jika ada ide besar atau ada proyek yang visible. Bill Gates juga tidak mempunyai uang, tapi dia mempunyai ide bagus. Dia tidak lulus kuliah, dia bukan anak orang kaya, tapi dari garasinya dia bisa membuat Microsoft jadi perusahaan besar.

Maka pikirkan ide yang bagus, lalu anda cari partner yang punya uang. Yakinkan dia dan berkerjasamalah dengan dia. Jika dalam kerjasama partner anda meminta keuntungan lebih besar, jangan persoalkan.

Misal semua ide dari anda tapi anda hanya dapat 10%, itu tidak masalah. Sebab 10% itu masih untung dari pada anda tidak jadi bekerjasama dan hanya dapat nol %. Jangan lihat kantong orang, jangan lihat untung orang, lihat kantong kita ada penambahan atau tidak.

Setelah anda menjalani usaha, suatu saat anda pasti akan menghadapi masalah. Hadapi saja masalah itu, karena masalah adalah bagian dari hidup yang akan terus datang. Saya sendiri juga pernah menghadapi masalah saat krisis ekonomi 1997-1998. Saat itu keadaan perekonomian sulit, semua pengusaha dan perusahaan juga sulit.

Saat itu saya jatuh miskin. Bahkan saya jauh lebih miskin dari pengemis. Ini karena saya memiliki hutang yang sangat besar. Hutang saya saat itu sekitar USD 1 miliar. Di saat yang sulit ini biasanya sahabat-sahabat kita, rekan-rekan kita semua lari.

Karena itu di saat yang sulit ini, kita tidak boleh memperlihatkan kita sedang terpuruk. Jangan perlihatkan kita sedang gelap. Seperti yang diajarkan ayah saya Achmad Bakrie; jangan biarkan dirimu di tempat yang gelap, karena di tempat yang gelap bayangan pun akan meninggalkanmu.

Maka saat susah itu saya tetap tegar dan tidak menunjukkan keterpurukan. Bahkan saya terpilih jadi ketua umum Kamar Dagang dan Industri (Kadin) untuk yang kedua kalinya. Kalau saat itu saya tunjukkan keterpurukan, mana mau mereka memilih saya.

Tapi yang penting setelah kita terpuruk, kita harus bangkit kembali. Kalau saat itu saya tidak bangkit, maka tidak bisa saya seperti saat ini. Saya berprinsip hadapi saja masalah, jangan lari. Banyak usaha yang saya lakukan, misalnya melepas saham keluarga dari 55% jadi tinggal 2,5%. Saya juga mencari pinjaman sana-sini.

Akhirnya dengan usaha keras pada tahun 2001 saya bisa bangkit kembali dan hutang saya bisa dilunasi dan bisnis saya membaik kembali.

Itulah pengalaman saya selama ini. Saya berharap bisa menjadi ilmu yang berguna. Papatah mengatakan pengalaman adalah guru yang paling baik. Sebagai penutup saya ingin bercerita mengenai kisah telur Colombus. Suatu saat Colombus menantang orang-orang untuk membuat telur bisa berdiri.

Saat itu tidak ada satupun orang yang bisa membuat telur berdiri. Kemudian Colombus memberi contoh cara membuat telur berdiri dengan memecahkan bagian bawahnya. Lalu orang-orang berkata; ah, kalau begitu caranya saya juga bisa.

Nah, saya ingin menjadi Colombus. Saya tunjukkan caranya, lalu anda mengatakan; kalau begitu saya juga bisa. Kemudian anda memulai usaha dan menjadi berhasil dan sukses. Saya senang kalau anda sukses, karena semakin banyak orang sukses, semakin maju bangsa ini.

Bagaimana tanggapan anda tentang kisah pengusaha sukses Indonesia diatas, om Ical Bakrie?

(sumber berita : dokterbisnis.net)

Chocodot, Citarasa Internasional yang Berasal dari Garut

Makanan tradisional Dodol sudah pasti tidak asing di telinga kita. Namun pernahkah anda membayangkan makanan ini diolah dengan balutan cokelat yang menggiurkan? Sensasi rasa ini hanya bisa diatemukan dalam Chocodot.

Ya, Chocodot, cokelat isi dodol. Penganan ini dikreasi oleh Kiki Gumelar, seorang wirausahawan asal Garut, Jawa Barat. Dibawah bendara Tama Cokelat Indonesia, Kiki mengangkat kuliner khas Garut ini ke pasar dunia.

“Mimpi saya adalah agar produk cokelat isi dodol pertama di dunia ini bisa menambah kekayaan kuliner khas Garut sekaligus mengangkat citra kudapan tradisional Garut ini ke konsumen dunia,” ujar Kiki.

Sejak diluncurkan pada 2009 lalu, Kiki tidak hanya menciptakan Chocodot khas dari segi rasa, namun juga dengan kemasan yang menarik. Isi Chocodot dimodifikasi mengikuti selera konsumen tanpa menghilangkan kekahasan rasa dodol didalamnya.

Selain Coklat isi dodol, Kiki juga menciptakan beberapa variasi produk, antara lain Gage Choco Garut Geulis yang berisikan aneka krim buah, Brodol (Brownie Dodol), bahkan produk cokelat yang mengangkat cita rasa rempah khas Jawa Barat seperti cabe dan jahe.

Kiki seakan tidak pernah berhenti berinovasi. Dia terus berkreasi menghasilkan variasi produk, anatara lain Rangicok Euy, ranginan khas Garut yang dicelupkan ke dalam coklat. Ada juga CoffeCoc yang dibuat dari penggabungan cokelat dan biji kopi nusantara.

Produk unik lainnya adalah Coklat Dogar (perpaduan cokelat dengan abon), Kue kering isi dodol dan Zadol Pizza (Pizza dengan taburan dodol). Saat ini produk unggulan Kiki bernama Chokor (Chocolate With Korma) dan Sugarfree Kujang (Milk & Dark Chocolate) sudah dipasarkan ke Riyadh, Saudi Arabia.
Sepak terjang Kiki mendapat dukungan dari pemerintah setempat. Chocodot pun berhasil mengambil hati masyarakat Garut. Kendala yang dihadapi saat ini adalah kurangnya informasi yang bisa diakses konsumen tentang Chocodot. Beruntung Kiki bergabung dalam program Bisnis Lokal Go Online.

“Karena pengetahuan tentang IT saya terbatas, awalnya saya sulit merealisiasikan keinginan go online. Namun setelah dengan bergabung dalam Bisnis Lokal Go Online cita-cita ini terwujud. Apalagi sarana ini mudah, cepat dan gratis. Cukup masuk melalui http://www.bisnisgoonline.co.id, saya bisa memasarkan produk-produk saya tanpa mengeluarkan biaya mahal. Semua pesanan dapat dilakukan tanpa konsumen harus menunggu lama,” tutur Kiki.

Hingga kini, Tama Cokelat Indonesia sudah memiliki enam gerai di Garut, satu gerai di Jakarta dan Bandung.Popularitas Chocodot pun telah menjangkau konsumen di beberapa negara tetangga. Kesuskesasan ini mengantar Kiki mendapat penghargaan The Greatest Innovation Award 2001 dari Kementerian Tenaga Kerja dan Transmigrasi, Kementerian Pendidikan Nasional dan Kementerian Sosial Republik Indonesia.

Sederet penghargaan lain pun sudah pernah disabet Kiki, seperti produk terbaik dalam Pameran Makanan Internasional Tutto Food di Milan, Italia tahun 2011, 4 penghargaan dari Indag Jabar “Food Etnik Jabar 2011 untuk kategori juara 1 Lomba Industri Makanan dan Minuman Berbahan Baku Lokal, kategori “Kreasi Kemasan Produk Makanan dan Minuman Menarik, juara 2 kategori “Inovasi Produk Makanan dan Minuman dan Penggunaan Bahan Baku, Juara 2 kategori “Pemberdayaan Masyarakat Lokal dan juara 3 Lomba Industri Makanan dan Minuman Berbahan Baku Lokal kategori ‘Diversifikasi Produk Makan dan Minuman.

Keberhasilan ini menempatkan Kik dalam deretan Wirausahawan muda sektor UKM yang berhasil mengembangkan usaha melalui dukungan online. “Kemajuan teknologi harus dimanfaatkan denganmaksimal untuk mendorong kemajuan perusahaan,” papar Kiki penuh optimis.
sumber wartaukm.com

sukses bersama telur bebek

Momok yang banyak dikhawatirkan penetas telur itik adalah rasio jumlah jantan yang lebih mendominasi dibandingkan jumlah anak itik betina. Maklum saja karena harga anak itik jantan jauh lebih murah dibandingkan dengan harga anak itik betina. Akan tetapi kini hal tersebut tidak lagi menjadi masalah yang cukup serius. Semenjak merebaknya warung makan yang menyajikan masakan serba bebek, bebek atau itik jantan muda justru banyak dicari orang. Permintaan suplai bebek untuk daging tidak kalah dengan permintaan bebek untuk petelur.

Kisah sukses bisnis bebek muda dialami oleh Purwanto Joko Slameto, lelaki yang berprofesi asli sebagai dosen Jurusan Teknik Arsitektur di Universitas Gunadarma, Depok, Jawa Barat, itu telah menikmati sukses bisnis sambilan bebek muda. Per bulan ia meluangkan waktu bolak-balik Jakarta Boyolali untuk menengok peternakan Bebeknya di Boyolali. Usahanya itu tidak sia-sia karena dari peternakannya itu Pak Joko mampu mendapatkan pemasukan 86 juta rupiah.

Awalnya bisnis Pak Joko memang tidak berjalan mulus, Puluhan rumah makan di Solo dan Yogyakarta yang ditawari itik jantan muda, tidak semua berminat. Solo dan Yogyakarta dipilih sebagai pasar pertama sebab dekat dengan lokasi peternakan, lagipula budaya makan daging itik sudah terbentuk di sana.Dari 300 ekor yang ditawarkan untuk semua rumah makan hanya 210 ekor yang terjual. Kebanyakan rumah-rumah makan masih mengandalkan daging dari itik apkir.Kalau pun diterima rumah makan menawar dengan harga sangat rendah. Jauh dari harga yang ditetapkan Joko, Rp18.000/ekor bobot 1,2 kg.

Mengemas Bebek

Pada tahun 2008 warung-warung dan penyedia menu itik menjamur di Jakarta dan sekitarnya, menjadi berkah bagi usaha itik Joko, meski awalnya tetap tidak mudah menawarkan itik muda kepada mereka. Baru saat pasokan itik afkir mulai seret, mereka mulai mencoba itik muda. Dengan modal kartu nama yang ditinggalkannya kepada pemilik warung akhirnya mereka mulai memesan itik muda Joko.

Pasar kian terbentang saat Joko menggunakan strategi lain: pemasaran via dunia maya. Lewat blog yang dibuat, pemilik peternakan bebek ABG itu sukses menjaring 16 pelanggan-semua restoran yang sebagian besar terletak di Jakarta, sisanya Jawa Tengah dan Kalimantan Timur. Total jenderal setiap hari ia mesti memasok 300 itik jantan muda untuk pelanggan barunya itu. Setengah pasokan didapat dari mitra yang menyetor itik siap jual.

Kunci sukses lain, memperkenalkan penjualan itik jantan muda dalam bentuk karkas. ‘Tujuannya untuk meningkatkan harga jual dan citra itik jantan,’ kata Joko. Bentuk karkas juga disukai rumah makan karena mereka tidak perlu mengeluarkan biaya pencabutan bulu. Itik diterima dalam bentuk daging yang bersih.

Lain lagi cerita sukses bisnis penetasan telur dari Sulawesi, adalah Hasnah wanita muda yang sukses dengan itik-itik tetasannya. Semenjak SMP ia memang sudah terjun ke dunia penetasan telur itik. Kiprah Hasnah dalam dunia penetasan telur bebek dan menjual anakan bebek kepada peternak bukan tanpa kendala. Kendala yang dihadapi bukan hanya kendala modal, tetapi juga kendala sosial. Ada komentar pesimisme dari orang-orang disekitar tempat tinggal Hasnah, bagaimana mungkin seorang perempuan bisa mandiri dan berkiprah dalam pengembangan ekonomi keluarganya hanya dengan menetaskan telur bebek.

Cibiran beraliran pesimisme tersebut tak lantas membuat Hasnah menyerah. Ia terus menetaskan telur, menabung uangnya untuk membeli peralatan-peralatan yang masuk kategori mewah untuk ukuran orang desa, bersolek ketika ada acara-acara sosial yang membuat kaum wanita disekitarnya menjadi tertarik untuk mengikuti jejaknya, dan Hasnah berhasil dengan cara itu.

Hasnah juga menuturkan, sampai hari ini, hampir semua perempuan di desanya melakukan usaha penetasan telur dikolong rumah masing-masing untuk membantu ekonomi keluarganya, dan itu nyata adanya. berkat bebek-bebek kecil, banyak orang tua mengirimkan anaknya ke kota untuk memperoleh pendidikan yang layak. Tak hanya itu, banyak kaum lelaki yang merasa terbantu oleh usaha istri-istrinya, mereka lebih tenang dalam bekerja di luar rumah, dan beban ekonomi keluarga berkurang, serta perlahan tapi pasti banyak keluarga taraf kehidupannya meningkat. (Galeriukm).

Sumber:
1.http://sosbud.kompasiana.com/2010/04/05/hasnahgadis-yatim-piatu-yang-sukses-sebagai-penetas-telur/

Berawal dari hobi hingga sukses dengan bumbu instan

Bukti besarnya peluang sukses dari bisnis bumbu masakan, sudah tidak dapat diragukan lagi. Salah satu orang yang telah sukses dengan racikan bumbu instan adalah Deden Arfianto. Dengan memanfaatkan peluang yang ada di sekitarnya, pria lulusan D3 Akutansi Perbanas angkatan 1986 ini berhasil mendirikan sebuah perusahaan bumbu instan yang beromset hingga ratusan juta rupiah setiap bulannya.

Bermodalkan hobinya yang suka makan, pada tahun 1999 Deden memulai usaha bumbu instannya. Dengan modal mesin pinjaman serta dana kurang dari 50 juta, pria campuran Jawa dan Sunda ini memproduksi aneka tepung bumbu dan bumbu racikan masakan padang, serta bumbu balado yang banyak diminati masyarakat.

Saat itu Deden sengaja memilih aneka bumbu tepung sebagai produk andalannya, karena masyarakat cenderung suka dengan gorengan. Hal itu dijadikan Deden sebagai peluang untuk memasarkan produknya. Dan ternyata prediksi Deden tidak salah, dalam 3 tahun saja usahanya sudah berkembang pesat yang semula hanya home industry berhasil menjadi PT. Diva Mitra Boga Tama yang beromset ratusan juta. Dengan dibantu 3 orang sales, produk Deden yang saat itu masih menggunakan kemasan plastik dengan tempelan stiker bernamakan DIVA berhasil memperoleh 10 pelanggan.

Pemasaran produk Divaboga pun dilakukannya dengan menjajaki konsumen dari orang – orang terdekatnya, termasuk teman – teman dan kerabatnya yang diminta untuk mencoba produknya. Setelah memperoleh respon positif dari orang – orang terdekatnya, Ia pun mulai mempromosikan produknya pada masyarakat luas dengan membidik ibu – ibu sebagai target utama. Tak jarang Deden dan pekerjanya mempromosikan produk dengan berdemo masak dihadapan ibu – ibu arisan. Hasilnya pun lumayan, penjualan produk bisa mencapai 70 sampai 100 kg.

Melihat minat pasar yang begitu positif dengan penawaran produknya, Deden pun memberanikan diri untuk mulai menawarkan hasil inovasinya ini ke kalangan industri. Ia menawarkan produk tepung bumbu miliknya ke perusahaan makanan seperti Mc Donald. Tawaran itu disambut baik oleh pengelola Mc Donald yang dulu masih menggunakan tepung dan bumbu impor. Berkat keberhasilannya menjalin kerjasama dengan industri yang cukup besar seperti Mc Donald, kini tawaran demi tawaran kerjasama dengan industri makanan lain pun datang membanjirinya. Tidak hanya Mc Donald saja, kini Divaboga menjadi pemasok bumbu di salah satu industri produsen nugget dan sosis yang cukup terkenal yaitu Sogut.

Dari usahanya yang dulu hanya dibantu tiga orang sales, kini perusahaan yang memproduksi Divaboga dan MitraQu telah berkembang menjadi perusahaan besar dengan pekerja lebih dari 50 orang. Berbagai macam produk bumbu seperti crispy batter breader, hot batter breader, sambal balado seasoning, tepung bumbu mendoan, dan tempura flour berhasil Ia prduksi dan laris manis dipasaran. Tak heran lagi jika Deden berhasil mengantongi omset ratusan juta rupiah setiap bulannya, dengan memproduksi kurang lebih 60 ton bahan baku bumbu instan per bulan. Produknya yang dijual seharga Rp 9.000,00 sampai Rp 12.000,00 telah merambah ke berbagai supermarket dan agen, bahkan sudah berhasil merambah pasar luar negeri seperti New Zealand.

Kejelian Deden Arfianto dalam memilih produk yang memiliki pasar luas, menjadi kunci kesuksesannya. Kisah sukses pengusaha bumbu instan, semoga dapat menjadi inspirasi bagi Anda. Karena segalanya bisa menguntungkan, jika Anda jeli dan tekun menjalankan usaha Anda. Salam sukses.

Sumber : Majalah Ide Bisnis edisi 01/ Juni 2010